Teaching Bahasa Indonesia to Adult Foreign Learners

Hi Folks,

This post is about the new ‘project’ that I started back in May 2014. It’s been more than a year and I’m pleasantly surprised that I’m still very much into it. The first half of this post is in English and the second half is in Indonesian.

Remember that I mentioned about CELTA and what I want to do after the 1-month solo trip back in 2013? Since 2009, I’ve been looking for another type of extra income gig that I’ll enjoy on top of my full-time job and to also maintain my financial health despite living in the most expensive city in the world (according to 2014 EIU Survey). After dipping my toes into some industries for several years, I finally found that teaching languages is the (current) answer to my restlessness. Beside teaching English to some Primary kids privately, I’ve started teaching Bahasa Indonesia to Adult Learners, both in classroom and 1-to-1 settings. Who would’ve thought that I’d teach my mother-tongue to the locals, Europeans and other nationalities in Singapore? It certainly didn’t cross my mind until early last year.

In January 2014, I chanced upon an opening for both part-time Indonesian and English language teacher at a language school. I immediately applied for both positions, as I was then qualified to teach them. One is my native language, and another one was my strongest 2nd language (not good enough to teach Mandarin yet, maybe one day *wishful thinking*). In the end, because I’m Indonesian and my results for language subjects were good, I joined the school as a part-time Indonesian language teacher. It was tough at first, since I didn’t have any experience in teaching my mother-tongue. After more than 1 year, I can finally write a summary of the challenges I’ve encountered so far. I’ll write this section in Bahasa Indonesia (for the English version, please use Google translate;P)

wpid-1a4cf639e9064a43dc4f62c2eabac8af.jpg


Catatan: Saya jarang sekali menulis dalam Bahasa Indonesia, bahkan cenderung tidak pernah. Kalau soal menulis, saya lebih suka mengekspresikan pikiran saya dalam Bahasa Inggris. Tapi mungkin kali ini, saya akan coba menjelaskan dalam Bahasa Indonesia, segala macam tantangan yang saya hadapi selama setahun belakangan ini. Saya periksa pemakaian kata disini –> http://kbbi.web.id/ dan suka membaca penjelasan dari web ini –> http://www.bahasakita.com/

Tantangan yang saya hadapi:

1) Mengajar Bahasa Indonesia formal (baku/resmi) atau informal (bahasa gaul).

Dalam percakapan sehari-hari, orang Indonesia sendiri jarang sekali memakai bahasa formal. Lebih sering memakai bahasa gaul/informal/slang dan kadang-kadang mencampurkan elemen bahasa Inggris ke dalam kalimat. Jadi pada saat saya mengajar, saya selalu kesusahan. Di satu sisi, saya harus mengikuti silabus yang sangat kuno dan penuh dengan bahasa formal yang jarang dipakai sehari-hari. Di sisi lain, saya ingin murid-murid saya latihan bicara Bahasa Indonesia yang sering dipakai. Bahasa sehari-hari akan lebih berguna pada saat mereka berkunjung ke Indonesia untuk bekerja atau liburan. Mereka bisa langsung menerapkan apa yang sudah dipelajari.

Jadi sekarang, saya tetap berusaha memperkenalkan versi formalnya di awal, sebelum kemudian mengajarkan versi sehari-harinya di akhir sesi.

2) Silabus yang perlu diperbaharui. Tapi belum ada waktu untuk merombaknya.

Silabus selalu menjadi bahan diskusi dan pertentangan. Tapi sejauh ini, kami, para guru, hanya bisa mengikuti apa yang sudah tersedia sambil menambahkan sendiri bahan yang sekiranya berguna untuk murid. Kami juga kadang harus mengubah materi menjadi lebih menarik untuk dipelajari dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan murid. Baru-baru ini, saya meminta dukungan manajemen untuk mengubah silabus dan mereka sudah setuju. Tapi sekarang masalahnya, saya belum punya waktu untuk eksekusi. Setiap hari saya mengajar sampai malam, sulit sekali mencari waktu untuk mengubah silabus. Saya akan minta bantuan guru lain. Mereka juga sama sibuknya dengan saya. Bagaimana ini? *mumet*

3. Susunan kata dan pengaruh bahasa asing.

Saya selalu mengajarkan konsep “ayam goreng” kepada murid saya, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris itu terbalik. “Fried chicken” akan menjadi “ayam goreng” dalam bahasa Indonesia, bukan “goreng ayam”. Konsep ini dan masih banyak lagi konsep tata bahasa yang lain akan selalu saya ulangi di kelas. Murid-murid biasanya sering salah menyusun kata, terbalik-balik dan terlalu banyak memakai terjemahan langsung ke Bahasa Inggris. Biasanya saya akan menjadi “badut” di kelas dan berusaha untuk tidak memakai terjemahan. Mereka harus berusaha berpikir dalam Bahasa Indonesia. Terkadang saya hanya meminta mereka menerjemahkan kata untuk memeriksa pemahaman kosakata yang sulit. Selebihnya, saya lebih suka memakai bahasa isyarat. Diusahakan 70-80% Bahasa Indonesia dan bahasa isyarat yang dipakai di kelas, sisanya Bahasa Inggris untuk menjelaskan tata bahasa yang susah.

Pada akhirnya, saya berharap proyek yang satu ini dapat saya kembangkan lagi di kemudian hari. Mungkin suatu hari nanti, saya bisa buka sekolah bahasa sendiri? Amin. Sekarang, (slang/colloquial) gue mau enjoy dulu aja deh, mau ngajar Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, privat atau kelas, sama aja. Yang penting senang ^_^

wpid-2340959116c480325735410ae50bf770.jpg


That’s all folks. I just used the formal version of Indonesian in this post.

Maybe I should practice more and write more posts in Indonesian? Using slang/colloquial version?

Oh well, Happy August everyone!

Time really flies…

Cheers,

Sien

*in early holiday mood. 33 more days to turning 2-9 on 2-9. 42 more days to a long vacation. Woohooo!! ^_^